Miris, Siswa SD Ini Meninggal Akibat Dibully Temannya Sendiri


101dunia - Dunia pendidikan Indonesia kembali tercoreng, kali ini peristiwa perundungan (bullying) menimpa seorang siswa SD hingga meninggal.

Anak SD Kelas II Meninggal karena dibully
Lazimnya, masa sekolah dasar adalah masa dimana anak-anak dapat bermain dan belajar dengan ceria di sekolah. Namun malang, seorang siswa SD kelas II berinisial SR (8) yang bersekolah di SD Negeri Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat menjadi korban bully hingga meninggal.

Seorang netizen dengan nama akun Ambbu Abbi menceritakan kejadian ini di Facebook, dan kisah itupun menjadi viral. Unggahan di Facebook tersebut telah dibagikan kembali oleh netizen hingga mencapai 17.375 kali, dan mendapat 13.747 komentar yang sepertinya akan terus bertambah.

Ambbu menceritakan bahwa SR meninggal setelah dipukuli oleh teman sekelasnya pada Selasa (8/8/2017) sekitar pukul 06.30 WIB.

Dilansir Tribunnews, kakak kandung SR, Abdurohim (37), Warga Citiris, Rt. 05 Rw. 06, Desa Hegarmanah, Cicantayan, mengaku mendapat kabar peristiwa tersebut sekitar pukul 06.30 WIB. 

"Saat itu teman-temannya mengadu SR pingsan setelah dipukuli temannya." tutur Abdurohim.

Mendengar kabat tersebut, Abdurohim bergegas menuju ke sekolah. Setibanya di sekolah, ia menemukan SR dalam kondisi terkapar. Ia pun mencoba memeriksa denyut nadi adiknya tersebut.

"Saat saya pegang sudah tidak berdenyut nadinya." ujarnya.

Abdurohim segera melarikan SR ke Puskesmas terdekat, namun nyawanya sudah tidak tertolong. Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah SR dibawa ke RSUD Sekarwangi untuk diautopsi.

Keterangan Teman-Teman Sekolah

Berdasarkan keterangan teman-teman sekolahnya, SR dipukuli oleh salah satu teman sekolahnya hingga jatuh tersungkur. Selain itu tidak hanya dipukuli, telinga SR disumbat menggunakan keripik, dan disiram dengan air minuman ringan.

Kasus ini kemudian ditangani pihak Polsek Cibadak.

Netizen menyoroti kejadian memilukan ini, berbagai kecaman dilayangkan ke arah pelaku. Semua menginginkan pelaku mendapat hukuman yang setimpal.

Waspadai Perilaku Anak Di Rumah

Sebagai orangtua, tentu kita sangat tidak menginginkan peristiwa semacam itu terjadi. Baik sebagai pelaku ataupun korban, keduanya sama-sama dirugikan. 

Kasandra Putranto, seorang Psikolog Forensik, mengaku sangat peduli dengan dunia pendidikan di tanah air. Ia menghimbau bahwa orangtua harus selalu berusaha melibatkan diri dengan segala kegiatan yang diikuti anak termasuk kegiatan di sekolah. 

Kondisi psikologis anak harus benar-benar diketahui dan diperhatikan oleh orangtua. Ia mengatakan bahwa seringkali orangtua melepaskan serta mempercayakan kepada sekolah begitu saja untuk dididik dan diajarkan disiplin. Padahal sistem pendidikan sekolah di Indonesia belum berjalan sepenuhnya dengan benar.

Pendapat tersebut memang betul, karena dari jumlah siswa di satu kelas SD Negeri yang rata-rata mencapai hampir 40 orang bahkan lebih saja, dapat dibayangkan betapa tidak mudahnya seorang guru untuk memperhatikan anak didiknya satu per satu. 

Karena itu Kasandra juga mengingatkan orangtua harus selalu memantau kegiatan anak dengan cara menjalin hubungan yang dekat secara emosional dengan anak. 

Sebagai orangtua yang memiliki kesibukan lain, memang tidak mudah saat mendengarkan celoteh anak-anak tentang kegiatan di sekolah apalagi jika ia bercerita bahwa ia melakukan kesalahan. Namun jangan langsung memarahi apalagi menghukumnya. Lebih baik dengarkan dahulu, kemudian berikan jeda sedikit. Setelah agak lama baru orangtua dapat menasehati anak agar hal-hal buruk yang ia alami tidak terulang lagi.

Anak adalah amanah dari Yang Maha Kuasa, karena itu harus benar-benar dijaga. Bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental spiritualnya. Pola asuh adalah faktor utama dalam membentuk kepribadian anak, bentuklah mereka dengan pola asuh yang benar.
 

0 comments:

Post a Comment