Kenapa Pabrik Beras Maknyuss Digerebek? Ini Kata Polisi


101dunia - Pabrik beras PT. Indoberas Unggul (PT. IBU) digerebek Satgas Pangan pada hari Kamis (20/7/2017). Kenapa perusahaan yang memproduksi beras merek Maknyuss tersebut digerebek? Ternyata hal itu disebabkan karena polisi menduga adanya kecurangan dan pemalsuan mutu yang dilakukan oleh PT. IBU.

Pabrik Beras Maknyuss Digerebek
Dilansir oleh Republika, Senin (24/07/2017), Ketua Satgas Pangan Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan bahwa semua petani mendapatkan subsidi benih, pupuk, dan obat-obatan untuk menghasilkan gabah. Oleh karena itu pemerintah menetapkan harga gabah panen sebesar Rp3.700 dan harga gabah kering giling Rp4.600 per kg.

Patokan harga ini sesuai dengan Permendag No. 47/m-dah/per/7/2017 tentang perubahan atas Mendag No. 27 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani dan penjualan di konsumen.

"Dengan ini diharapkan adanya keadilan mulai dari penghasil dari petani, penggiling kecil, menengah, bisa sama-sama menikmati hasil kerja." ujar Setyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Setyo juga menambahkan bahwa hasil panen terdiri dari dua jenis yaitu panen gaduh (musim kering) dan panen rendeng (musim penghujan). Gabah yang dihasilkan di musim kering berkualitas bagus karena cuaca yang cerah sehingga gabah yang dihasilkan kering.

Sebaliknya di musim hujan, gabah yang dihasilkan kurang bagus karena curah hujan yang tinggi sehingga gabah kurang kering. Memang hal yang diharapkan adalah semua gabah memiliki kualitas yang baik, namun di sayangnya di lapangan tidak semua gabah berkualitas baik. Menurutnya hal inilah yang dimanfaatkan oleh pemilik modal. Mereka menarik semua gabah berkualitas bagus dari petani dengan menawarkan harga beli yang tinggi.

"Saat panen gaduh yang punya duit mengambil semua, harga Rp3.700 dibeli dengan harga Rp4.900. Memang benar ini menguntungkan petani, tapi mematikan penggiling kecil. Mereka juga kan perlu untuk menghidupi pekerja, tapi karena ngga mampu membeli gabah ngga bisa kerja." Kata Setyo.

Setyo juga menjelaskan, setelah mengalami berbagai proses sampai dengan proses pengemasan kemudian beras tersebut dijual dengan harga diatas ketetapan pemerintah. Dengan demikian harga yang sangat tinggi ini yang diduga telah memberatkan konsumen.

"Harga dua kali lipat ini sangat tidak berkeadilan, penggiling menjerit, konsumen juga menjerit." tuturnya.

Jika memang PT. IBU ingin menghasilkan brand dengan kualitas premium, lanjutnya, maka seharusnya tidak dengan harga yang terlampau tinggi dari yang ditetapkan oleh pemerintah. Memang saat ini tidak ada ketentuan perhitungan harga beras premium, namun harga beras diatas Rp20 ribu dianggap sudah tidak adil.

"Katakanlah premium kalau masih Rp11 ribu - Rp12 ribu masih wajar, masyarakat masih mampu untuk menikmati. Inti tidak wajar, tidak bisa mereka mengatakan ini-itu, komponennya apa saja." Ungkap Setyo.

Saat awak media menanyakan tentang apakah hal itu berarti PT IBU berperan sebagai mafia beras, Setyo mengatakan saat ini tengah dilakukan penyidikan ke arah tersebut.

"Ini yang diarah. Kartel dan mafia itu mereka menguasai betul di tingkat hulu dan hilir, dia yang menentukan dan mengatur (harga)." Jelasnya.

0 comments:

Post a Comment