Misteri Manusia Berubah Menjadi Batu Di Pompeii. Ini Penjelasan Ilmiahnya


Pada tahun 79 Masehi terjadi bencana yang teramat dahsyat di Romawi. Gunung Vesuvius mengalami erupsi yang menyemburkan awan panas hingga ketinggian 30 km. Awan panas yang terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan bebatuan membumbung tinggi dan mengubur kota-kota di sekitarnya yaitu Herculaneum, Pompeii, dan berbagai wilayah lain di sekitar gunung tersebut hingga radius puluhan kilometer.

Arkeolog di situs Pompeii (Sumber AFP/Mario Laporta)
Setelah beratus-ratus tahun terkubur dan menghilang, pada abad ke-18 teater Herculaneum ditemukan. Sejumlah penelitian dan pencarian lebih lanjut akhirnya membawa titik terang akan keberadaan kota-kota kuno tersebut, termasuk kota Pompeii.


Para peneliti tidak hanya menemukan peninggalan berupa artefak saja tetapi juga jasad-jasad manusia yang berubah menjadi patung akibat awan panas. Salah satu jasad yang terlihat memilukan adalah jasad seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun yang ditemukan di pangkuan ibunya. Sementara tidak jauh dari situ ditemukan pula jasad ayah dan saudaranya.

Jasad-jasad itu ditemukan di lokasi "House of The Golden Bracelet", salah satu rumah paling mewah di area Insula Occendentalis, Pompeii. Insula Occendentalis merupakan kawasan bergengsi. Pusat bisnis dan toko-toko berjajar di sepanjang jalan. Tidak semua orang mampu tinggal di wilayah tersebut, melainkan hanya orang kaya dan elit saja.

Baru-baru ini juga telah ditemukan jasad manusia yang membatu dengan posisi berpelukan. Para ahli pun melakukan penelitian terhadap jasad yang dijuluki "The Two Maidens" tersebut. Penelitian dengan metode pemindaian CT dan uji DNA pada jasad itu menghasilkan fakta bahwa ternyata keduanya adalah lelaki.

Para peneliti berpendapat bahwa kemungkinan kedua lelaki tersebut adalah sepasang kekasih. Observasi pada tulang dan gigi mengungkapkan bahwa dua lelaki itu berusia sekitar 18 dan 20 tahun. Berbagai teori muncul terkait hubungan mereka yang mungkin tidak akan pernah terungkap.

"Fakta bahwa mereka merupakan sepasang kekasih merupakan hipotesis yang tidak bisa diabaikan." kata pengawas di situs arkeologi Pompeii, Massimo Osanna.

Bagaimana warga kota Pompeii tersebut bisa berubah menjadi batu? Berikut penjelasannya:

Erupsi dahsyat Gunung Vesuvius menghasilkan awan panas yang membumbung tinggi di angkasa selama 10 jam lamanya. Kemudian awan panas tersebut hancur dan menghasilkan rangkaian lonjakan piroklastik. Piroklastik adalah material yang dihasilkan dari letusan gunung berapi dan terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan bebatuan.

Gelombang piroklastik yang meluncur dengan cepat ke kota Herculaneum dan Pompeii menyebabkan kematian penduduk secara seketika akibat paparan suhu tinggi yang diperkirakan mencapai 200 hingga 600 derajat celcius.

Di kota Herculaneum yang berjarak sekitar 6 km dari Gunung Vesuvius terjadi lonjakan suhu yang membuat daging dan darah penduduk menguap. Sementara itu di Pompeii yang berjarak 10 km dari Gunung Vesuvius, jasad penduduk mengeras karena suhu endapan vulkanik yang lebih rendah. Ketika daging menghilang secara perlahan, abu vulkanik akhirnya mengisi rongga yang terbentuk di sekitar jasad.

Berdasarkan analisis lokasi dan laboratorium terhadap tulang manusia dan hewan, korban erupsi Gunung Vesuvius terkena suhu panas antara 200 hingga 600 derajat celcius dengan jarak hingga 15 km.

Hal ini disampaikan oleh Professor Pier Paolo Petrone, seorang ilmuwan dari University Frederico II of Naples dalam presentasinya yang diadakan oleh Instituto Italiano di Cultura, Jakarta beberapa waktu yang lalu.

0 comments:

Post a Comment