Blunder, Pelaporan Sudirman Said Malah Mengungkap Kecurangan Pada Pemilihan Presiden Lalu


101dunia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said melaporkan Setya Novanto ke Mahkamah Kehormatan Dewan atas dugaan pencatutan nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk meminta saham Freeport. Dalam pelaporannya, Sudirman Said menyatakan bahwa telah berlangsung pertemuan antara Setya Novanto (SN), Riza Chalid (MR), dan Maroef Sjamsoeddin (MS) yang pembicaraannya telah direkam oleh MS.

  Mengungkap Kecurangan Pemilihan Presiden

Ternyata Luhut Panjaitan selaku Menkopolhukam tidak berkenan atas pelaporan tersebut karena ternyata namanya disebut berulangkali dalam transkrip rekaman.  Luhut mengatakan kepada media bahwa Presiden Jokowi tidak merestui langkah pelaporan ke MKD tersebut. Namun Sebaliknya, Sudirman Said menyatakan bahwa sebelum melaporkan skandal tersebut ke MKD ia sudah berkonsultasi terlebih dahulu kepada presiden dan wakil presiden.

Terkait kasus pencatutan namanya, Presiden Joko Widodo melalui Sekretaris Kabinet menyatakan bahwa ia tidak akan mengambil langkah hukum. Namun sebaliknya Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan jika permasalahan ini telah diselesaikan di MKD maka selanjutnya Setya Novanto akan menghadapi gugatan hukum darinya.

Sebelumnya Sudirman Said hanya menyerahkan rekaman dengan durasi 11 menit dari keseluruhan pembicaraan selama 120 menit, hal tersebut kemungkinan untuk menyembunyikan berbagai fakta lain yang akan membongkar berbagai konspirasi di republik ini. Bahkan Sekretaris Fraksi Partai Golkar, Bambang Soesatyo, mengatakan pada kesempatan lain bahwa isi rekaman lengkap skandal tersebut sangat mengerikan.

"Kami mendengar informasi bahwa rekaman lengkap yang berdurasi 100-an menit itu lebih mengerikan," kata Bambang Soesatyo ketika dikonfirmasi, Kamis (26/11/2015).

Belakangan ini telah beredar transkrip rekaman lengkap sepanjang 120 menit yang akhirnya membuat heboh negeri ini. Salah satu fakta yang mencengangkan adalah pernyataan Riza Chalid yang mengungkap kecurangan yang dilakukan oleh pihak Jokowi-JK saat pemilihan presiden yang lalu.

Seperti diketahui bahwa karena desakan masyarakat maka Presiden Jokowi urung melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri. Terkait hal itu Riza Chalid dalam rekaman tersebut mengatakan, "Terus kenapa dia menolak BG. Padahal pada waktu pilpres, kita mesti menang Pak. Kita mesti menang Pak dari Prabowo ini. Kalian operasi, simpul-simpulnya Babimnas. Bapak ahlinya, saya tahu saya tahu itu. Babimnas itu bergerak atas gerakannya BG sama Pak Syafruddin. Syafruddin itu Propam. Polda-polda diminta untuk bergerak ke sana. Rusaklah kita punya di lapangan."

Pernyataan Riza Chalid tersebut mengungkap tindakan Polri sebagai suatu institusi, yang seharusnya bersikap netral terhadap pemilihan presiden, telah mendukung salah satu pihak untuk memenangkan pemilu tahun lalu dalam hal ini capres Jokowi-JK.

Selain itu transkrip rekaman pembicaraan lengkap selama 120 menit tersebut juga mengungkapkan adanya money politik di Papua terkait pemilihan presiden lalu. Setya Novanto menyatakan bahwa karena gerakan Polri di Papua tersebut maka suara untuk capres Prabowo Subianto rusak di daerah tersebut.

0 comments:

Post a Comment