Perjalanan Hijrah Nabi Muhammad SAW


101dunia - Banyak yang beranggapan bahwa perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah hanyalah kebetulan semata yang tidak pernah direncanakan. Atau semata-mata terjadi sebagai cara Rasulullah dan pengikutnya melarikan diri dari segala teror dan intimidasi yang dilakukan oleh para kaum kafir Quraisy.

Perjalanan Hijrah
Ilustrasi Perjalanan Hijrah Nabi
Namun hal tersebut tidak benar, perjalanan hijrah nabi dan para pengikutnya tidaklah terjadi secara kebetulan atau mendadak. Jauh sebelum peristiwa itu, Rasulullah sudah mengetahui bahwa suatu saat ia dan pengikutnya akan diusir oleh kaumnya sendiri. Hal tersebut disampaikan oleh Waraqah Bin Naufal semasa Rasulullah masih kecil.

Beliau pun telah memprediksi hal tersebut berdasarkan firman Allah SWT yang menceritakan tentang hal yang dialami oleh nabi sebelumnya. "Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, 'usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini. Mereka adalah orang-orang yang menganggap dirinya suci'." (QS. Al A'raf 7:82).

Dengan kedua informasi tersebut, Nabi sangat menyadari bahwa suatu saat kaumnya akan mengusir dirinya dari kota Mekah. Jadi selama 13 tahun menjalankan dakwah di Mekah, Rasulullah SAW mengetahui bahwa suatu saat dirinya akan terusir dari Mekah.

Perjalanan Hijrah - Landasan Sosial Umat Manusia

Hijrah yang dilakukan oleh nabi dan pengikutnya bukanlah semata-mata hanya perpindahan dari Mekah ke Madinah. Lebih dari itu, perjalanan hijrah yang artinya sebagai pemutusan keterikatan masyarakat terhadap tanahnya, dapat mengubah cara pandang manusia terhadap dunia dan mengubahnya menjadi suatu pandangan yang luas dan menyeluruh. Perubahan tersebut pada akhirnya dapat menghilangkan segala bentuk kesombongan, kemerosotan sosial, memperbaharui pemikiran dan perasaan sehingga masyarakat yang berhijrah tersebut dapat menjadi masyarakat yang dinamis dan mampu menghadapi perubahan.

Dibalik cerita tentang kemajuan peradaban manusia, terdapat hijrah. Saat kita mengamati orang atau masyarakat besar dimanapun, maka ditemukan cerita atau bahasa hijrah (migrasi). Maka dapat disimpulkan bahwa peristiwa hijrah dalam dalam Islam adalah landasan sosial penting bagi umat manusia. Dengan melakukan perjalanan hijrah, Nabi Muhammad SAW sesungguhnya berusaha untuk membuka cakrawala baru bagi bangsa Arab yang pada saat itu bersifat kesukuan agar wawasan politik mereka berkembang. Dengan begitu maka hubungan politik antar suku dapat terjalin dengan baik. 

Perjalanan Hijrah
Ilustrasi Perjalanan Hijrah Nabi
Perjalanan Hijrah - Kondisi Rasulullah Sebelum Hijrah

Pada tahun ke-10 masa kenabiannya, Rasulullah dilanda kesedihan yang begitu mendalam. Dua orang terdekat beliau yaitu sang paman, Abu Thalib, dan sang istri, Siti Khadijah meninggal pada tahun yang sama. Dua figur ini adalah pembela Rasulullah semasa beliau menjadi nabi. Oleh karena wafatnya dua orang tersebut terjadi pada tahun yang sama maka para ahli sejarah menyebut tahun ini sebagai 'amul huzni (tahun duka cita). Hal yang membuat Nabi SAW semakin bersedih adalah bahwa Abu Tahlib yang beliau cintai tidak pernah sempat mengucapkan dua kalimat syahadat hingga akhir hayatnya. 

Meskipun selalu membela Nabi menjalankan dakwah, Abi Thalib sendiri tidak pernah mau mengucapkan dua kalimat syahadat untuk mengikrarkan imannya. Hal tersebut disebabkan prinsipnya yang ingin mempertahankan wibawa Bani Muttalib di mata masyarakat Quraisy. Karena begitu mencintai sang paman, Nabi selalu mendoakan Abi Thalib, hingga suatu riwayat menyebutkan bahwa nabu berkata "Mudah-mudahan Allah memberikan rahmat dan ampunan-Nya bagimu (Abi Thalib). Aku akan selalu memintakan ampunan untukmu, hingga Allah mencegahku.

Baca juga: Kisah Nabi Muhammad SAW Yang Menginspirasi

0 comments:

Post a Comment